1. Kariogram
Kariogram
pertama kali diperkenalkan pada tahun 1997 oleh Dr. Bratthal untuk memperoleh
pemahaman yang lebih dalam tentang karies sebagai penyakit multi-faktorial.
Kariogram merupakan sebuah program perangkat lunak komputer yang bertujuan
untuk menunjukkan latar belakang multi-faktorial karies gigi dengan
menggambarkan interaksi yang berhubungan dengan sepuluh factor karies. Faktor
risiko karies yang terdapat pada kariogram :
1.Pengalaman
karies, dihitung menggunakan indeks DMF-T.
|
Skor |
Keterangan |
|
|
Benar-benar bebas
karies, tidak ada tambalan, tidak ada lubang atau gigi hilang karena karies. |
|
|
1 = lebih baik dari biasanya |
Status lebih baik
daripada normal, pada kelompok usia tersebut. |
|
|
2 = normal untuk
kelompok usia |
Status normal pada
kelompok usia. |
|
|
3 = lebih buruk
dari biasanya |
Status lebih buruk
daripada normal pada kelompok usia, atau beberapa lesi karies baru 1 tahun terakhir. |
Pada pemeriksaan klinis, jumlah gigi berlubang, tambalan dan gigi yang hilang harus dicatat. Adanya lubang gigi dan tambalan, prevalensi karies adalah faktor penting untuk menggambarkan keseimbangan antara faktor resistensi dan faktor pemicu karies di masa lalu, maupun saat ini. Jika prevalensi karies tinggi, diartikan bahwa pasien rentan terhadap penyakit selama jangka waktu yang lalu (D. Bratthall, Sweden, 2004).
2.Penyakit/
kondisi yang berhubungan dengan karies gigi, yaitu penyakit mulut kering dan
penyakit gula.
|
Skor |
Keterangan |
|
|
Tidak ada
tanda-tanda penyakit umum yang mempengaruhi terjadinya karies gigi, pasien
sehat. |
|
|
1 =
penyakit/kondisi derajat ringan |
Penyakit
umum yang secara tidak langsung memengaruhi karies gigi, atau kondisi lain
yang berkontribusi terhadap risiko karies tinggi, mis. Mata rabun,
ketidakmampuan bergerak.
|
|
|
2 = derajat berat,
sudah lama diderita
|
Pasien terbaring
ditempat tidur atau membutuhkan obat terus menerus, misalnya mempengaruhi sekresi
saliva |
Beberapa penyakit atau kondisi umum dapat secara langsung atau tidak langsung mempengaruhi terjadinya karies gigi, baik melalui mempengaruhi pembentukan dan komposisi saliva, melalui pola makan atau obat-obatan memicu terjadinya karies. Penyakit atau kondisi pada anak usia dini mempengaruhi pembentukan enamel (D. Bratthall, Sweden, 2004).
3.Kandungan
makanan yang mengandung karbohidrat yang dibedakan atas tingkat rendah, sedang,
tinggi dan sangat tinggi.
|
Skor |
Keterangan |
|
|
Fermentasi
karbohidrat sangat rendah, diet sangat baik dari sudut pandang karies gigi.
Gula atau karbohidrat lain yang menstimulasi terjadinya karies sangat
rendah. |
|
|
1 = fermentasi
karbohidrat rendah, diet non-kariogenik |
Fermentasi
karbohidrat rendah, diet non-kariogenik, diet yang tepat dari perspektif
karies. Gula atau karbohidrat lainnya yang menstimulasi terjadinya karies
pada tingkat rendah. |
|
|
2 = kandungan
fermentasi karbohidrat sedang
|
Fermentasi
karbohidrat sedang. Diet dengan
kandungan gula yang relative tinggi atau karbohidrat lainnya yang
menstimulasi
|
|
|
3 = asupan
karbohidrat yang difermentasikan tinggi, |
Diet yang tidak
baik dari perspektif karies. Asupan gula yang tinggi atau karbohidrat lainnya
yang menstimulasi terjadinya karies.
|
Diet berperan dalam mengembangan karies gigi,
dan korelasi antara konsumsi karbohidrat dan karies, beberapa penelitian
menunjukan, terutama tindakan pencegahan program fluor tidak ada yang efektif.
Karbohidrat termasuk asupan gula (terutama sukrosa, glukosa, fruktosa) dan
tepung yang dimasak, dengan cepat mudah hancur oleh amylase saliva menjadi gula
(glukosa, maltosa dan maltotriosa). Dengan demikian, sebagian besar makanan
sangat berpotensi bersifat kariogenik (D. Bratthall, Sweden, 2004).
4.Frekuensi
makan, untuk mengetahui frekuensi makan per hari.
|
Skor |
Keterangan |
|
|
Frekuensi asupan
diet sangat rendah, maksimal tiga kali
per 24 jam. |
|
|
1 = maksimal 5 kali
makan per hari
|
Frekuensi asupan
diet rendah, maksimal lima kali per 24
jam. |
|
|
2 = maksimal 7 kali
makan per hari |
Frekuensi asupan
diet tinggi, maksimal tujuh kali per 24
jam. |
|
|
3 = lebih dari 7
kali makan per hari |
Frekuensi asupan
diet sangat tinggi, rata-rata lebih dari tujuh kali per
24 jam |
Frekuensi asupan karbohidrat adalah salah satu faktor utama dalam memperkirakan risiko karies. Bahkan snack ringan – biskuit atau makanan manis- berkontribusi menimbulkan produksi asam. Namun snack bebas gula (aman untuk gigi), atau air, tidak perlu dipertimbangkan (D. Bratthall, Sweden, 2004).
5.Skor
plak, untuk mengetahui kebersihan gigi dengan menggunakan Indeks Plak.
|
Skor |
Keterangan |
|
|
Tidak ada plak,
semua permukaan gigi sangat bersih. Pasien sadar akan kebersihan mulut,
menggunakan sikat gigi dan membersihkan antar
gigi. |
|
|
1 = kebersihan
rongga mulut baik, PI=0,4-1,0
|
Film plak yang
menempel pada free margin gingiva dan area gigi yang berdekatan. Plak dapat
terlihat setelah penerapan larutan disclosing solution atau dengan
menggunakan probe pada permukaan gigi. |
|
|
2 = kebersihan
rongga mulut kurang baik, PI=1,1-2,0 |
Akumulasi lapisan
lunak sedang, dapat dilihat oleh mata telanjang. |
|
|
3 = kebersihan
ronga mulut buruk, PI>2,0
|
Melimpahnya materi
lunak dalam saku gusi dan/atau pada gigi dan margin gingiva. Pasien tidak
tertarik untuk membersihkan gigi atau kesulitan dalam membersihkan. |
Plak adalah faktor etiologis langsung dan penting bagi karies (dan periodontitis). Indeks yang berbeda dapat digunakan untuk memperkirakan jumlah plak, misalnya, untuk memperlihatkan persentase seberapa banyak permukaan yang terpengaruh (D. Bratthall, Sweden, 2004).
6.Streptokokus
mutans, untuk mengetahui banyaknya jumlah bakteri Streptokokus mutans pada
permukaan gigi.
7.Program
fluor, untuk mengetahui frekuensi dan bentuk pemakaian fluoride.
|
Skor |
Keterangan |
|
|
Pasta gigi berfluor
plus tindakan tambahan fluor secara terus menerus – tablet atau pengolesan
varnish. Program fluor maksimal. |
|
|
1 = tindakan
program fluor tambahan tidak rutin
|
Pasta gigi berfluor
plus beberapa tindakan tambahan – tablet atau
pengolesan varnish tidak rutin
|
|
|
2 = hanya pasta
gigi berfluor |
Hanya pasta gigi
berfluor, tanpa suplemen. |
|
|
3 = menghindari
fluor, tidak ada fluor
|
Menghindari fluor,
tidak menggunakan pasta gigi berfluor atau tindakan fluor lainnya |
Fluor
adalah faktor yang sangat kuat menstimulasi resistensi terhadap karies dan
penting untuk remineralisasi lesi karies dini (D. Bratthall, Sweden, 2004).
8.Sekresi
saliva, untuk mengetahui rata-rata jumlah sekresi saliva yang dikeluarkan dalam
jangka waktu 1 menit tanpa stimulasi, dibedakan atas tingkat normal, rendah,
lebih rendah, dan sangat rendah.
|
Skor |
Keterangan |
|
|
Sekresi saliva
normal lebih dari
1,1 ml stimulasi saliva per menit. |
|
|
1 = rendah, 0,9 –
1.1 ml stimulasi saliva/menit
|
Rendah, dari 0,9
hingga 1,1
ml stimulasi saliva per menit . |
|
|
2 = rendah, 0,5 –
0,9 ml saliva/menit
|
Rendah, dari 0,5
hingga 0,9 stimulasi saliva per Menit. |
|
|
3 = sangat rendah,
xerostomia, <0,5 ml saliva/menit
|
Sekresi saliva
sangat rendah, rongga mulut kering, saliva kurang dari 0,5
ml per menit. |
Estimasi laju aliran saliva (jumlah saliva)
dapat dilakukan di klinik menggunakan metode sederhana. Gejala subjektif dari
pasien berupa mulut kering, kekurangan air liur, dan volume air liur tidak
selalu benar, dan metode tes yang obyektif sangat direkomendasikan (D.
Bratthall, Sweden, 2004).
9.
Kapasitas buffer, untuk mengetahui asam, basa dan netralnya saliva dalam rongga
mulut yang diukur dengan universal pH
indicator paper lalu dibandingkan
dengan indicator warna pada
indicator universal.
|
Skor
|
Keterangan
|
|
|
Normal atau
kapasitas buffer baik, pH saliva
≥6.0 |
|
|
1 = kurang,
dentobuff hijau |
Kapasitas buffer
kurang baik, pH saliva 4,5-5,5 |
|
|
2 = rendah,
dentobuff kuning |
Kapasitas buffer
rendah, pH saliva ≤4.0 |
Saliva memiliki beberapa fungsi penting untuk melindungi gigi maupun permukaan mukosa rongga mulut. Terutama membersihkan sisa-sisa makanan, gula dan kondisi asam dalam rongga mulut sangat penting agar terlindung dari karies gigi (D. Bratthall, Sweden, 2004).
10.Penilaian klinik,
merupakan penilaian dalam memprediksi
karies secara langsung oleh peneliti.
Opini pemeriksaan gigi “perasaan klinis”
|
Skor |
Keterangan |
|
|
Kesan total dari
situasi karies, termasuk factor-faktor social, memberikan pandangan yang
positif, lebih positif daripada yang tampak pada kariogram. Pemeriksa ingin membuat
sektor hijau lebih besar, yaitu meningkatkan “peluang untuk menghindari karies‟ bagi
pasien. |
|
|
1 = Normal setting
risiko sesuai dengan nilai-nilai lain yang dimasukkan
|
Kesan total dari
situasi karies, termasuk faktor social, memberikan pandangan, sejalan dengan
apa yang ditunjukkan oleh tes dan faktor lainnya yang terlihat untuk
menunjukan dan menunjukkan terhadap risiko karies yang sama seperti dalam
kariogram. Pemeriksa tidak memiliki alasan untuk mengubah evaluasi program
tersebut. |
|
|
2 = lebih buruk
daripada yang ditunjukan kariogram berdasarkan skor yang dimasukkan
|
kesan total dari
situasi karies, termasuk faktor social, menunjukan kearah peningkatan risiko
karies. Kurang baik dibandingkan dengan yang ditunjukan oleh tes dan faktor
lainnya. Pemeriksa ingin membuat sektor hijau lebih kecil, yaitu mengurangi
“peluang untuk menghindari karies‟ |
|
|
3 = risiko karies
sangat tinggi, pemeriksa yakin bahwa karies akan berkembang, terlepas dari
apa yang ditunjukan kariogram berdasarkan skor yang dimasukkan.
|
Kesan total dari
situasi karies, termasuk faktor social, sangat buruk. Pemeriksa sangat yakin
bahwa karies akan terjadi pada tahun yang akan datang dan ingin sektor hijau minimal,
terlepas dari hasil kariogram. Pemeriksa mengesampingkan program perkiraan
tersebut. |
Faktor ini adalah berbeda prinsip dari faktor-faktor yang lain. Faktor ini memberikan kesempatan bagi pemeriksa untuk mengungkapkan “clinical feeling‟, jika pendapat berbeda dari perkiraan tersebut (D. Bratthall, Sweden, 2004).
Kariogram
memiliki beberapa tujuan, yaitu menggambarkan hubungan karies dengan beberapa
faktor, mengilustrasikan pencegahan karies, menunjukkan grafik risiko karies,
merekomendasikan upaya pencegahan, sehingga dapat digunakan di klinik, dan
dimasukkan sebagai program pendidikan.
Bentuk kariogram
ialah sebuah diagram lingkaran
yang dibagi menjadi
lima bagian dalam beberapa warna yang berbeda, yaitu
merah, biru muda, kuning, hijau, biru tua yang mengindikasikan kelompok faktor
yang berbeda-beda yang berhubungan dengan karies gigi.
a)
Area merah : menunjukkan sektor bakteri
berdasarkan kombinasi antara skor plak dan Streptococcus mutans.
b) Area biru muda : menunjukkan kerentanan karies
berdasarkan kombinasi dari program fluoride,
sekresi saliva, dan kapasitas buffer saliva.
c) Area kuning : menunjukkan faktor keadaan berdasarkan kombinasi pengalaman karies
masa lalu dan
penyakit yang berhubungan.
d)
Area
hijau : menunjukkan sebuah
perkiraan mengenai kemungkinan karies untuk menghindari timbulnya kavitas baru.
e)
Area biru tua : menunjukkan diet berdasarkan
kombinasi kandungan makanan dan frekuensi diet.
Untuk membuat sebuah kariogram diawali
dengan mengisi identitas yang meliputi nama, nomor, tanggal, dan pemeriksa.
Informasi rincian data pasien yang telah dimasukkan akan muncul di sudut kiri
layar. Kemudian mengatur pengaturan untuk “Negara/Daerah”, faktor resiko karies
pada setiap negara berbeda-beda, tergantung
pada latar belakang
negara tersebut. Terdapat
beberapa pilihan, yaitu standar,
resiko rendah, dan
resiko tinggi. Selanjutnya
mengatur pengaturan “Kelompok”,
hal ini karena seseorang mungkin dikategorikan dalam kelompok resiko yang lebih
tinggi atau lebih rendah. Contoh: pasien lanjut usia dengan permukaan akar gigi
yang terbuka. Langkah berikutnya yaitu
memberi skor (0-3) sesuai dengan kriteria pasien pada kotak kosong dengan mengklik
tanda panah ke atas atau ke bawah, sedikitnya tujuh dari sepuluh parameter yang
ada.
Perangkat lunak kariogram dapat
memberikan interpretasi umum dan beberapa tindakan yang perlu dilakukan dengan
memilih ikon ‘Rekomendasi secara umum‘, setelah hasil kariogram dari data-data
yang dimasukkan muncul. Rekomendasi yang ditampilkan tergantung pada skor yang
dihasilkan dari skor kategori kariogram.
Kategori resiko karies berdasarkan hasil
kariogram:
·
Resiko karies rendah : area berwarna hijau (peluang untuk menghindari karies
baru) >80%.
·
Resiko karies sedang : area berwarna hijau (peluang untuk menghindari karies
baru) 20% - 80%.
·
Resiko karies tinggi : area berwarna hijau (peluang untuk menghindari karies
baru) < 20%.
Kelebihan dan
kelemahan kariogram
Kariogram memiliki beberapa
kelebihan diantara ialah sebagai berikut :
· Menggambarkan
interaksi faktor-faktor terkait karies.
· Menggambarkan
peluang untuk menghindari karies.
· Mengungkapkan
risiko karies secara grafis.
· Merekomendasikan
tindakan pencegahan yang ditargetkan.
· Dapat
digunakan diklinik.
· Dapat
digunakan sebagai program pendidikan.
Kekurangan dari program ini ialah tidak dapat menggantikan penilaian risiko karies secara pribadi dan professional yang dibuat oleh pemeriksa. Namun, program ini dapat memberikan petunjuk berharga dan bahkan dapat berfungsi sebagai dasar untuk diskusi dengan pasien mengenai berbagai faktor risiko dan strategi pencegahan. Dengan kata lain, itu tidak mengambil alih penilaian atau tanggung jawab pemeriksa, tetapi dapat berfungsi sebagai alat yang berharga dalam pengambilan keputusan klinis (D. Bratthall, Sweden, 2004).
2. Irene Donut’s
Software (perangkat lunak/program)
komputer Irene Donut’s merupakan software yang dibuat berdasarkan penelitian
Disertasi S3 Dr. drg. Irene Adyatmaka yang melibatkan 2.568 murid TK dan orang
tuanya.
Irene’s Donuts merupakan program
interaktif dalam bentuk program komputer/ versi manual yang memberikan
pemahaman tentang faktor risiko karies sejak dini sehingga pencegahan lebih
awal penting dilakukan melalui peran serta orang tua.
Dengan mengisi
faktor-faktor risiko terkait perilaku anak, kondisi kesehatan gigi anak,
kondisi/lingkungan ibu dan anak, pengetahuan, sikap dan perilaku ibu (orang tua
anak), maka program akan menampilkan gambaran besar risiko anak terhadap
kemungkinan karies gigi. Program juga akan menawarkan “menu” apa yang dapat
dilakukan orang tua anak/anak untuk mengurangi risiko karies, dan dapat dibawa
sebagai pegangan untuk tindak lanjut dirumah.
Tujuan dengan adanya
program ini adalah :
a)
Memberikan pemahaman tentang
faktor-faktor risiko karies sejak dini.
b)
Memberikan pemahaman tentang
cara mencegah karies gigi.
c)
Memberikan gambar visual
besar risiko karies yang dihadapi dan kemungkinan perbaikannya.
d)
Memberdayakan orang tua anak
(masyarakat sekolah) untuk pemeliharaan kesehatan gigi anak.
Indikasi
1.
Untuk dipresentasikan kepada orang tua murid TK/SD kelas 1 pada awal
pelajaran baru sebagai pengenalan program UKGS Inovatif.
2.
Untuk menggerakkan peran serta orang tua murid secara individual (atau
kelompok 5 orang) pada anak dengan kondisi karies parah (misalnya 5% dari
kondisi anak terparah 25 atau dengan ketentuan anak tersebut gigi tetapnya
telah ada yang karies atau anak tersebut mempunyai karies gigi susu lebih dari
8 gigi). Pada dasarnya peran orang tua terhadap kesehatan gigi anaknya seusia
TK / SD kelas I sangat menentukan ( Kementrian KesehatanRI, 2012).
Selain tujuan yang
disebutkan di atas, program ini juga bertujuan untuk mengetahui tingkat
kerusakan gigi pada anak yang mungkin muncul dikarenakan perilaku anak dan
terutama perilaku orang tua dari sang anak tersebut. Beberapa pertanyaan
terdapat bersedia atau tidaknya sikap orang tua siswa untuk berubah agar dapat
menuju gigi dan mulut yang sehat. Setelah pengisian kuisioner, akan didapatkan
diagram risiko terjadinya karies kemudian dilakukan intervensi berupa
penyuluhan tentang kesehatan gigi dan mulut untuk mencegah terjadinya karies.
Penyuluhan sebagai proses pendidikan
tidak mengajarkan ketergantungan, tetapi harus mampu mengembangkan kemandirian.
Penyuluhan dengan metode Irene’s Donuts ini dapat mengarahkan kepada orang tua
untuk mendidik anaknya melakukan kebiasaan pemeliharaan kesehatan gigi sejak
dini yang dapat mempengaruhi kesehatan gigi dan mulut di kemudian hari.
Dalam software Irene Donut’s ini ditampilkan 17 pertanyaan faktor risiko gigi berlubang pada anak yang akan dijawab orang tua. Dari hasil jawaban, akan keluar perkiraan besarnya risiko gigi berlubang pada anak itu. Orang tua pun menjadi tahu bahwa perlakuan tertentu pada anak mereka akan menyebabkan besarnya risiko gigi berlubang pada anak. Kemudian orang tua diminta berkomitmen untuk hal-hal apa yang harus dilakukan untuk mencegah gigi berlubang pada anak di masa yang akan datang. Hasilnya, dari perangkat lunak akan terlihat perkiraan baru risiko gigi berlubang pada anak-anak.
Langkah-langkah menggunakan
aplikasi Irene Donut’s :
1. Menyiapkan
instrument simulator risiko karies.
a)
Flipchart Simulator Risiko
Karies “Donut Irene” versi manual / versi komputer.
b)
Formulir / status
pemeriksaan kesehatan gigi anak.
c)
Lembar kerja / rapor gigi.
d)
Set pemeriksaan pH biofilm.
e)
Basic Instrument
f)
Mixing Slab
2.
Menyiapkan simulator risiko karies dan posisi
operator.
a)
Siapkan Instrumen simulator
risiko karies / alat tulis.
b) Ibu dan anak serta operator duduk menghadap komputer / flipchart.
c)
Jalankan program dan lakukan
seperti yang diminta program dengan mengisi data yang diperlukan.
*Isi data pemeriksa dan nama
sekolah yang akan diperiksa.
d)
Mengisi identitas pasien.
*Mengisi nama orang tua.
*Mengisi nama anak.
*Mengisi kelas anak.
e) Mengambil sampel plak untuk diperiksa derajat
keasamannya (lihat prosedur dan panduan praktik pemeriksaan biofilm).
f)Tanyakan
setiap pertanyaan yang ditampilkan di program.
g) Pada
saat memeriksa white spot/fissure hitam ajak ibu melihat juga kondisi gigi
anaknya.
h) Bila
semua telah selesai diisi tunjukkan gambaran tingkat risiko karies.
i) Tawarkan
antisipasi (menu) yang dapat dilakukan dan tunjukkan perubahan risiko yang
tergambar.
j)
Pada hasi wawancara, tunjukkan apa yang harus dilakukan sebagai pekerjaan
rumah.
k)
Catat / kompilasi hasil isian SRK Donut Irene (factor yang jadi bersamaan,
factor yang didapat, besar risiko sebelum dan sesudah antisipasi).
l)
Lakukan tindakan surface protection / terapi remineralisasi.
m)Lakukan
evaluasi pengisian PR dan analisis keberhasilannya.
n)
Lakukan diskusi untuk meningkatkan peran serta orang tua dalam pemeliharaan
kesehatan gigi anaknya.
Daftar
Pustaka
1. Fatmasari,
Diyah. Quroti, A’yun. Julita, H. 2015. Perangkat
Lunak Prediktor Karies Anak Berdasarkan Faktor Anak, Perilaku Ibu, dan UKGS.
2. Hanum,
Nur. A. Hamid, Abu. Ismalayani. 2019. Tingkat
Risiko Karies Gigi Permanen Anak-Anak Taman Kanak-Kanan di Kota Palembang di
Masa Datang. Jurusan Keperawatan Gigi Poltekkes Kemenkes Palembang.
3. Nagaraj
A, Vishnani P. Cariogram – A
Multi-factorial Risk Assessment Software for Risk Prediction of Dental Caries.
International Journal of Scientifi c Study. 2014;1(4):58-62.
4. Organisasi Kesehatan Dunia. (2020). "Constitution of the
World Health Organization". BasicDocuments (PDF) (edisi
ke-49). Jenewa: Organisasi Kesehatan Dunia. hlm. 1. ISBN 978-92-4-000051-3.
5. Reca.
Penerapan Metode Irene’s Donuts (UKGS
Inovatif) dalam Menurunkan Skor Risiko Karies Pada Anak Kelas 1 SDN 3 Kota
Banda Aceh. Jurusan Keperawatan Gigi Politeknik Kesehatan Kementerian
Kesehatan Aceh. Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Malikussaleh.
6. Stjernsward,
JR. D. Bratthall, G Hansel Petersson. 2004. Cariogam
Manual.
Cariogram Internet Version, 2004. https://www.mah.se/upload/FAKULTETER/OD/cariogram%20program%20caries/cariogmanual201net.pdf
7. Taringan,
R.,2013. Karies Gigi. Jakarta:
Penerbit Kedokteran EGC.





Tidak ada komentar:
Posting Komentar